|
Sabtu 12 April 2008 :
Jam 10 : 00 : Penerbangan
dari Semarang ke Surabaya berjalan dengan lancar dan cuaca yang
cerah.
Jam 11 : 00 : Pesawat
Sriwijaya Air mendarat dengan mulus; waktu makin berpacu, saya
langsung mengambil mobil pinjaman dan langsung memacu ke arah
Probolinggo. Upppsss Lumpur lapindo menghambat perjalanan saya
selama satu jam.
Jam 14 : 00 : Tak
ketinggalan hobby kuliner saya; terpaksa menepikan mobil ke Rawon
Nguling. Daging sapinya yang terasa segar dan kuahnya yang hitam
sedikit kental akhirnya memenuhi perut saya yang sudah kosong.
Jam 15 : 00 : Sampai di
Probolinggo menjemput teman saya Fadli yang telah siap menemai
perjalanan saya ke Ijen. Sepanjang perjalanan menuju Bondowoso
obrolannya yang khas dengan bahasa kromo inggil yang kental Jawa
Timuran menjadikan teman penghilang kantuk dan letih.
Jam 17 : 00 : Kami Masuk
Bondowoso, dan dengan sedikit bingung karena buta Kota Bondowoso,
akhinya dengan modal tanya (kebayakan tanya malah) kami menemukan
jalan menuju kawah ijen. Kami langsung tancap naik kala Matahari
mulai terbenam. Jalan menuju ke Ijen sungguh suatu yang berat, jalan
yang berliku, menanjak dan aspal terkelupas. Alhasl bagaikan off
road sepanjang perjalanan kami. Sayang pemda tidak memberikan
petunjuk arah yang jelas sehingga membuat kami harus salah jalur
hingga 3 kilometer perjalanan.
Jam 19 : 00 : Mulai memasuki
hutan-hutan; mobil APV pinjaman yang ternyata mati lampu sebelah dan
fog lamp yang tidak berfungsi memaksa saya berhati-hati dalam
menghindari lobang-lobang besar menganga. Sungguh suatu perjalanan
yang sendiri tanpa mobil lain membuat suasana sedikit mencekam.
Hanya kadang sepeda motor penduduk lokal atau truk sayur yang
berpapasan, makin ke atas makin sedikit kampung dijumpai dan jalan
makin rusak. Di tengah perjalanan kami mendapati L300 yang berhenti
seperti sedang ada masalah. Teman saya Fadli seperti mengenali mobil
tersebut dan akhirnya kami menepi untuk menanyakan kondisi .
Ternyata benar, teman Guide Fadli yang mengantar tamu Jepang, mobil
dalam kondisi sehat menepi hanya untuk merapikan tas koper saja.
Akhirnya perjalanan kami menjadi ada teman beriringan hingga ke
Guest House
Jam 20 : 00 : Check point
demi check point pengawas perkebunan kami lalui dengan selalu
mengisikan buku tamu. Sejak masuk ke wilayah PT. Perkebunan XII
jalan berubah menjadi mulus dan membuat saya bisa memacu mobil.
sayang hanya 10 km terakhir, sepanjang 50 km tadi kami harus off
road.
Jam 20 : 30 : Kami sudah
sampai di Guest House Arabica yang cukup nyaman buat badan yang
sudah letih dan ngantuk menyetir selama 8,5 jam perjalanan.
Jam 22 : 00 : Setelah set up
untuk keberangkatan besok, adalah waktunya tidur.

Minggu 13 April 2008 :
Jam 02 : 00 : Kami bangun
dan bersiap untuk berangkat
Jam 02 : 15 : Kami sempatkan
minum Teh dan sudah ada 2 orang teman bule Perancis yang bersiap
berangkat bersamaan
Jam 02 : 30 : Mobil kami
meraung beriringan menembus kabut menuju titik pos terakhir di
pelataran Perhutani
Jam 03 : 00 : Kami bersiap
berjalan ke puncak, senter yang kecil dan battery yang sudah melemah,
memaksa saya merelakan battery SB 800 untuk digunakan. Ternyata
teman bule lebih well prepared dengan head Lamp dan masker hidung
siap menaklukan puncak ijen. Setelah mengisikan buku tamu kami
melangkah bersama menuju puncak yang tinggal 3,5 km lagi. Tapi
sungguh beda langkah, teman bule satu langkah kaki versus saya dua
langkah kaki, memaksa kami merelakan teman perjalanan untuk melaju
di depan.
Jam 05 : 30 : Dengan susah
payah, nafas yang seakan mau berhenti karena mungkin ada faktor
tipisnya oksigen, akhirnya sampailah saya di Puncak. Rasanya sudah
ada puluhan kali harus berhenti untuk mengambil nafas. Thanks
mas Fadli sudah mau bersabar melaju dalam kelambatan. Tapi begitu
sampai di puncak semua letih hilang melihat panorama yang
demikian indahnya. Terlihat tambang belerang jauh dibawah kawah
berjarak sekitar 500 an meter. Dengan merambat meniti batu-batu
besar melalui jalur para penambang, dengan jurang menganga dibawah,
sedikit demi sedikit akhirnya sampai juga.
Jam 08 : 00 : Kabut mulai
turun membawa bulir-bulir air, akhirnya memaksa saya untuk turun.
Sungguh suatu perjalanan hunting foto yang menyenangkan, panorama
yang indah dan human interest yang mencengangkan hati. Hampir 16 GB
saya habiskan dalam body camera Nikon saya. Seperti tak pernah
shutter berhenti berbunyi.
Jam 11 : 00 : Akhirnya kami
harus sudah memacu kembali jalur off road menuju Surabaya. Sungguh
suatu petualangan hunting foto yang tidak sekedar memotret tapi
mampu menginspirasi pandangan saya terhadap perjuangan-perjuangan
untuk memaknai hidup ini
Gear Support
: Pada perjalanan Hunting ini saya
coba untuk membawa peralatan yang minimalis mengingat kondisi alam
yang berat. Bahkan lensa AFS 70 - 200 f/2,8 pun harus rela saya
tinggalkan untuk meringankan beban.
Gear : Tas Domke J
series journalist, Body Nikon D3, Nikkor lens AFS 28-70 F/2,8
EDIF, Nikkor lens AFS 14-24 F/2,8 G EDIF , Flash SB 800, Manfrotto
Neotec with VR Head, beberapa filter SR.
Semoga foto journal dan
catatan perjalanan ini bisa berguna buat teman semua
salam
Stephanus hannie
|