Pejuang - pejuang Keluarga dari Ijen                                                  
     

 

   
 

Sebuah catatan hati yang saya tuangkan dalam foto   

Dalam keluarga pasti ada pejuang-pejuang tangguh yang harus bergelut dan berjuang untuk menghidupi dan membahagiakan para kesayangannya. Ada yang dengan mudah dan bergelimang dengan kemewahan dan ada yang dengan perjuangan keras hingga hampir titik nol hanya untuk sebuah hidup yang layak dan sederhana.

Berlaku buat semua, tak kecuali para pencari belerang di Kawah Ijen. Dikala yang lain beranjak tidur mereka sudah merayapi bumi mencari, mengais dan memikul belerang. Dikala yang lain sedang mimpi indah, berkilo-kilo belerang sudah berada dalam pikulan dipundaknya, melawan angin dingin, gelap sang malam dan jurang terjal siap menantinya.

Sebuah Pejuang Keluarga....

 

Dedicated to : Pak Sulaiman, Pak Asrin, Pak Tohari dan para hero lainnya

 

 

          
       

Bayangmu di Pagimu, angin pagi mulai menyambut, para pejuang keluarga mulai merayap menapaki dinding kawah yang menjulang tinggi. Sengal nafas terdengar, bunyi jeritan bambu beralun dan tapak - tapak berat melangkah demi keluarga

Dalam Pelita Malamku, oborlah sebagai teman setia sebagai petunjuk arah menyusuri punggung Gunung Ijen. Ketika lelah menerpa sudah ada tempat-tempat khusus berhenti / istirahat untuk meletakkan pikulan. Melinting rokok dan menghisapnya merupakan keasyikan tersendiri dalam gelap kelam, menghimpun tenaga kembali.

Finding Sulphur, sebuah perjuangan yang melelahkan. Dengan linggis panjang mereka mulai memecahkan belerang-belerang yang telah mengeras, setelah keluar dari pipa. Kala angin bertiup kearahnya, berhamburan berlari mencoba menghindar dari asap belerang yang menyesakkan paru dan pedih dimata. Berkali terdengar batuk terbata karena tak sempat menghindar.

 

Ijen Padamu Ku Bergantung, tak ada kata lain. Sebuah ikatan yang kuat antara manusia pejuang dengan Ibu Alam, telah bertahun bahkan 18 tahun Pak Sulaiman bersahabat dengan Ijen. Demi keluarga dan buah hatinya, Pak Sulaiman dengan senyum dan harapan menggantung sebagai semangat, melewati harinya yang sangat berat. Hanya Rp.500 rupiah per kilonya. Sungguh ironi dengan perjuangannya

 

Belerangku, kilo demi kilo belerang dikumpulkanya dengan peluh menetes dan dada sesak oleh belerang bahkan gatal dan panas menyerang tenggorokannya. Sekali angkut minimal 50 kg hingga 100 kg dilakoninya setiap hari. Ramuan jamu khusus harus ditebusnya segelas Rp.4000,- demi menjaga kesehatan badannya. Tak seperti biasanya, hari ini Pak Sulaiman hanya mengangkut berkisar 40 kg untuk mempersingkat waktu tempuhnya, " Saya ingin pulang cepat mas, karena harus besuk ayah saya di LP, orang tua saya ketangkap waktu mencuri kayu mas..." sebuah penggalan babak tambahan dalam hidupnya yang sederhana.

 

Sebuah Langkah Awal, setelah lelah mengumpulkan belerang dalam pikulannya. Sekaranglah waktunya babak awal perjuangan berikutnya, memikul dengan beban berat mendaki terjalnya kawah Ijen yang penuh batu dan jurang. Sepanjang tiga setengah kilo meter lagi tetes-tetes keringat dan sengal-sengal nafas sebagai irama pengiring perjuanganmu

 

Tour of Duty, bagai sebuah perjalanan perang. Ya perang melawan kemalasan dan ratapan menjadi pengangguran. Tiada dua kata tadi pernah terucap untuk dilakoninya, hanya semangat perjuangan memaknai hidup dan tanggung jawab seorang kepala rumah tangga yang ada dalam hatinya. Nyata dalam kerja, sungguh para pejuang - pejuang keluarga.

Istirahat Sejenak, Memikul 50 sampai dengan 100 kilogram bukanlah sesuatu yang mudah dan ringan. Dibutuhkan istirahat dari satu tempat ke tempat berikutnya, bagaikan special stage dalam dunia Rally mobil. Penempatan keranjang-keranjang pikulan pun ada tempat-tempat khusus meletakkan, guna mempermudah peletakan dan pengangkatan. Istirahat biasanya untuk merokok lintingan dan sedikit minum.

Jalan Masih Panjang, dan mendaki tentunya. Kira-kira masih tiga kilometer lagi untuk sampai ke penampungan di bawah. Menembus kabut dan angin dingin menusuk, sebuah ritual perjalanan yang harus dijalani. Dua kali perjalanan pulang pergi (Rit) setiap harinya, total berkisar hingga 80 s/d 140 kg didapat. "Kalau badan lagi prima saya bisa sehari mendapatkan sekitar 160 kg mas... dengan dua kali pulang pergi". " Tapi hasilnya yang didapat nggak sebanding dengan perjuangannya mas... cuman dihargai Rp.500,- per kilogramnya"  

Hasil Ku Dapat, setelah perjalan panjang yang melelahkan, sekarang saatnya menimbang hasil yang didapatkan. Rata - rata tiap pikulan menghasilkan 50 s/d 80 kilogram.

 

Hasil Ku Jajar, setelah menimbang dan mendapatkan hasil, pikulan demi pikulan dijajar untuk siap dibawa ke penampungan nantinya. Senyum kecil tersungging, pada wajah pak Asrin, sambil menunjukkan bon hasil penimbangan. " Lumayan mas dua kali pikul dapat segini..." Pikulan pertama berkisar 60 kg dan pikulan kedua berkisar 85 kg, tinggal dikalikan Rp.500,- per kilonya. " Buat orang rumah mas...." sebuah ucap tanggung jawab seorang kepala keluarga.

    

Preparing for Coffee, sebuah teman yang selalu menemani sepanjang ritual perjalanan kerjanya : Obor, air minum, lintingan dan terakhir tentunya kopi penghangat. Dengan teko yang sudah terlihat tua dimakan waktu, pak Asrin siap-siap merebus air untuk secangkir kopi penghangat di pagi hari yang melelahkan.

Untuk Kopiku, disambut cahaya pagi menembus dapur shelter, Pak Asrin merebus air untuk kopi dengan kayu bakar. Sebuah ritual kecil untuk secangkir kopi penghangat.

The Shelter, di rumah kecil dan dalam bilik-bilik kecil ini pak Asrin dan pak Tohari memanfaatkan sebagai "kantor" dan tempat penampungan sementara. Cukup lengkap ada bilik-bilik kecil untuk sekedar tidur, ada dapur untuk memasak, dan lemari-lemari kecil sebagai tempat penyimpan bekal. Sederhana jauh dari kesan nyaman, tapi sudah menyatu dan "homey" diras mereka. 

Lintingan Dulu Ahh...., Lintingan kayaknya sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Selalu dan selalu di kala santai sejenak  ritual melinting tembakau dan kemudian menghisapnya  seakan sudah menjadi ritme nafasnya.

Merenda Mimpi dan Harapan...., Kala kantuk mendera, akhirnya badan tak kuasa untuk menahannya, tidur di bilik sederhana sudah bagaikan di hotel bintang lima. Tetap lelap dan nyenyak... Merenda Mimpi dan Harapan yang didapat dari sebuah perjuangan memaknai hidup untuk anak dan keluarga di rumah agar selalu bisa hidup lebih baik lagi. Sungguh sebuah perjuangan seorang pejuang keluarga yang sangat menginspirasi dan memotivasi kita.

Merenda Mimpi dan Harapan...., Kawah ijen tidak sekedar sebuah panorama nan cantik tetapi telah mampu menjadi sahabat yang berdampingan dengan manusia. Sebuah Cita dan Harap sudah menjadikan babakan indah karenanya.....

 

 
 
     
     

    Sebuah Catatan Perjalanan

  Kawah ijen terletak di kabupaten Bondowoso, Jawa Timur; berada pada ketinggian +/- 2800 dpl. Perjalanan ini diawali dengan sebuah rencana 3 minggu sebelum hari H. Planning sudah matang, rencana kami berempat akan start dari surabaya pada hari sabtu pagi tgl 12 April 2008. Pada menjelang hari H akhirnya peserta tim hunting kami berguguran meninggalkan saya sendiri, yang sudah well prepared, tiket pesawat dan hotel yang telah ter booking. Akhirnya saya tetap memutuskan melakukan perjalanan hunting yang menyenangkan dan menyisakan catatan di hati : sebuah perjuangan para pejuang-pejuang keluarga di Ijen
   

Sabtu 12 April 2008 :

Jam 10 : 00  : Penerbangan dari Semarang ke Surabaya berjalan dengan lancar dan cuaca yang cerah.

Jam 11 : 00  : Pesawat Sriwijaya Air mendarat dengan mulus; waktu makin berpacu, saya langsung mengambil mobil pinjaman dan langsung memacu ke arah Probolinggo. Upppsss Lumpur lapindo menghambat perjalanan saya selama satu jam.

Jam 14 : 00  : Tak ketinggalan hobby kuliner saya; terpaksa menepikan mobil ke Rawon Nguling. Daging sapinya yang terasa segar dan kuahnya yang hitam sedikit kental akhirnya memenuhi perut saya yang sudah kosong.

Jam 15 : 00  : Sampai di Probolinggo menjemput teman saya Fadli yang telah siap menemai perjalanan saya ke Ijen. Sepanjang perjalanan menuju Bondowoso obrolannya yang khas dengan bahasa kromo inggil yang kental Jawa Timuran menjadikan teman penghilang kantuk dan letih.

Jam 17 : 00  : Kami Masuk Bondowoso, dan dengan sedikit bingung karena buta Kota Bondowoso, akhinya dengan modal tanya (kebayakan tanya malah) kami menemukan jalan menuju kawah ijen. Kami langsung tancap naik kala Matahari mulai terbenam. Jalan menuju ke Ijen sungguh suatu yang berat, jalan yang berliku, menanjak dan aspal terkelupas. Alhasl bagaikan off road sepanjang perjalanan kami. Sayang pemda tidak memberikan petunjuk arah yang jelas sehingga membuat kami harus salah jalur hingga 3 kilometer perjalanan.

Jam 19 : 00  : Mulai memasuki hutan-hutan; mobil APV pinjaman yang ternyata mati lampu sebelah dan fog lamp yang tidak berfungsi memaksa saya berhati-hati dalam menghindari lobang-lobang besar menganga. Sungguh suatu perjalanan yang sendiri tanpa mobil lain membuat suasana  sedikit mencekam. Hanya kadang sepeda motor penduduk lokal atau truk sayur yang berpapasan, makin ke atas makin sedikit kampung dijumpai dan jalan makin rusak. Di tengah perjalanan kami mendapati L300 yang berhenti seperti sedang ada masalah. Teman saya Fadli seperti mengenali mobil tersebut dan akhirnya kami menepi untuk menanyakan kondisi . Ternyata benar, teman Guide Fadli yang mengantar tamu Jepang, mobil dalam kondisi sehat menepi hanya untuk merapikan tas koper saja. Akhirnya perjalanan kami menjadi ada teman beriringan hingga ke Guest House 

Jam 20 : 00  : Check point demi check point pengawas perkebunan kami lalui dengan selalu mengisikan buku tamu. Sejak masuk ke wilayah PT. Perkebunan XII jalan berubah menjadi mulus dan membuat saya bisa memacu mobil. sayang hanya 10 km terakhir, sepanjang 50 km tadi kami harus off road.

Jam 20 : 30  : Kami sudah sampai di Guest House Arabica yang cukup nyaman buat badan yang sudah letih dan ngantuk menyetir selama 8,5 jam perjalanan.

Jam 22 : 00  : Setelah set up untuk keberangkatan besok, adalah waktunya tidur.

 

Minggu 13 April 2008 :

Jam 02 : 00  : Kami bangun dan bersiap untuk berangkat

Jam 02 : 15  : Kami sempatkan minum Teh dan sudah ada 2 orang teman bule Perancis yang bersiap berangkat bersamaan

Jam 02 : 30  : Mobil kami meraung beriringan menembus kabut menuju titik pos terakhir di pelataran Perhutani

Jam 03 : 00  : Kami bersiap berjalan ke puncak, senter yang kecil dan battery yang sudah melemah, memaksa saya merelakan battery SB 800 untuk digunakan. Ternyata teman bule lebih well prepared dengan head Lamp dan masker hidung siap menaklukan puncak ijen. Setelah mengisikan buku tamu kami melangkah bersama menuju puncak yang tinggal 3,5 km lagi. Tapi sungguh beda langkah, teman bule satu langkah kaki versus saya dua langkah kaki, memaksa kami merelakan teman perjalanan untuk melaju di depan.

Jam 05 : 30  : Dengan susah payah, nafas yang seakan mau berhenti karena mungkin ada faktor tipisnya oksigen, akhirnya sampailah saya di Puncak. Rasanya sudah ada puluhan  kali harus berhenti untuk mengambil nafas. Thanks mas Fadli sudah mau bersabar melaju dalam kelambatan. Tapi begitu sampai di puncak  semua letih hilang melihat panorama yang demikian indahnya. Terlihat tambang belerang jauh dibawah kawah berjarak sekitar 500 an meter. Dengan merambat meniti batu-batu besar melalui jalur para penambang, dengan jurang menganga dibawah, sedikit demi sedikit akhirnya sampai juga.

Jam 08 : 00  : Kabut mulai turun membawa bulir-bulir air, akhirnya memaksa saya untuk turun. Sungguh suatu perjalanan hunting foto yang menyenangkan, panorama yang indah dan human interest yang mencengangkan hati. Hampir 16 GB saya habiskan dalam body camera Nikon saya. Seperti tak pernah shutter berhenti berbunyi.

Jam 11 : 00  : Akhirnya kami harus sudah memacu kembali jalur off road menuju Surabaya. Sungguh suatu petualangan hunting foto yang tidak sekedar memotret tapi mampu menginspirasi pandangan saya terhadap perjuangan-perjuangan untuk memaknai hidup ini

Gear Support : Pada perjalanan Hunting ini saya coba untuk membawa peralatan yang minimalis mengingat kondisi alam yang berat. Bahkan lensa AFS 70 - 200 f/2,8 pun harus rela saya tinggalkan untuk meringankan beban.

Gear : Tas Domke J series journalist,  Body Nikon D3, Nikkor lens AFS 28-70 F/2,8 EDIF, Nikkor lens AFS 14-24 F/2,8 G EDIF , Flash SB 800, Manfrotto Neotec with VR Head, beberapa filter SR.

 

Semoga foto journal dan catatan perjalanan ini bisa berguna buat teman semua

 

salam

 

Stephanus hannie

 

 

 

 
 
                                                                                                                                                                                                                            
     
Back to Menu

 

 
Copyright @ 2008 stephanus hannie