|
MEMAKNAI HIDUP LEWAT BIDIKAN KAMERA
(Sebuah Interview dengan Nikonia
Magazine)
Kedewasaan memang menghampiri tiap orang dengan cara berbeda. Ada banyak
cara seseorang bertransformasi menuju kedewasaan dan percaya atau tidak,
fotografi merupakan salah satu cara untuk itu. Setidaknya itulah yang
dirasakan Stephanus Hannie, seorang pehobi fotografi dari Semarang.
Mengaku lewat lensa kamera, ia menemukan banyak hal menyentuh yang
membuatnya makin dalam memaknai hidup.
Dari aktifitas yang awalnya iseng-iseng saja, fotografi menjadi hobi
yang ia tekuni dengan serius disela-sela kesibukanya. Maka menjelajahlah
Hannie - begitu ia biasa di sapa- dari satu fragmen hidup ke fragmen
lain yang dengan sepenuh hati diserap tak hanya lewat rana kamera, tapi
rana hatinya.
Peraih 3rd Winner Nikon International
Photo Contest 2006-2007 yang sejak kecil gemar melukis ini merasa
menemukan media baru untuk mengganti kertas dan kuas. "Kini saya melukis
dengan kamera dan cahaya", katanya. Pada NIKONIA, Hannie mengisahkan
perjalanan dan kecintaanya pada fotografi
KAPAN ANDA MULAI
MENEKUNI FOTOGRAFI?
Awalnya hanya iseng-iseng ingin
membeli kamera saku untuk mendokumentasi hobi traveling saya. Pulang
dari toko kamera, bukannya kamera saku yang saya bawa, tapi justru
kamera SLR Nikon N60 dan lensa AFD 28-80mm. Sejak itu saya mulai
jepret-jepret, keranjingan an keterusa hingga sekarang.
KENAPA ANDA MEMILIH
NIKON?
Love at first sight mungkin unkapan
yang tepat untuk mengambarkan kenapa saya memilih dan lalu sangat suka
Nikon. Sejak awal saya sudah memutuskan menggunakan Nikon dan maikn lama
makin cinta. Kalo boleh ge-er, saya merasa kamera ini sangat mengenal
dan memahami kebutuhan saya sebagai pehobi foto. Nikon menjawab semua
kebutuhan saya kala memotret
KENAPA ANDA BEGITU
MENCINTAI FOTOGRAFI?
Waktu kecil saya sangat suka melukis,
baik dengan pensil, cat air maupun cat minyak. Setelah lama saya
tinggalkan, saya mendapat feel yang sama ketika saya memegang kamera.
Keasyikan dan sensasi rasa yang saya dapatkan saat melukis dulu, seakan
mengalir kembali ketika saya memotret. Saya kembali melukis, bukan
dengan cat dan pensil melainkan dengan cahaya.
BAGAIMANA ANDA
MENGASAH KEMAMPUAN?
Sejak awal saya adalah seorang
otodidak. Saya belajar lewat buku, majalah, searching internet dan
sekarang, setelah punya banyak teman di fotografi, saya juga menggali
banyak hal dari mereka
APA SESUNGGUHNYA YANG
ANDA CARI DARI FOTOGRAFI?
Jawaban akan misteri dan keindahan
cahaya itu sendiri. Bagaimana cahaya dapat terekam dan mengabadikan
realita adalah hal yang sangat menarik bagi saya. Dari sini, saya
menemukan sebuah fakta penting, bahwa hidup, senestapa apapun tetap
memiliki sisi keindahan. Lewat kamera saya melihat, bahkan kesendirian,
kesedihan, kemiskinan tetaplah memiliki sisi indah dan tetap layak
diterima sebagai anugerah. Hidup, dengan segala suka dukanya bukanlah
sesuatu yang boleh ditampik atau diingkari. Jawaban-jawaban tenatang
hidup seperti itulah yang terus saja mengalir pada saya saat membidik
dibelakang lensa. Ini membuat saya makin dewasa memandang dunia dan
kehidupan.
SUBYEK APA YANG JADI
FAVORIT KALA ANDA MEMOTRET?
Human interest, alam dan jurnalistik
PUNYA PENGALAMAN
BERKESAN SAAT MENEKUNI FOTOGRAFI?
Suatu kali, saat hunting ke sebuah
panti jompoi di Semarang, berbagai persaaan berkecamuk dalam benak saya
saat menyaksikan kesedihan dan kesendirian yang memancar dari mata para
penghuni panti. Tubuh saya seperti membeku sampai tidak sanggup menekan
tombol rana. Ada pergolakan dalam hati, apakah saya harus memotret atau
memasukan kamera ke dalam tas. Setelah cukup lama mematung, akhirnya
saya memutuskan untuk membuat potret terbaik yang bisa saya buat. Saya
sadar, memotret mereka akan jauh lebih bemanfaat karena foto saya akan
dilihat banyak orang yang mungkin bisa makin berempati, makin peduli
pada orang tua dan tak akan melemparkan mereka dalam kesendirian yang
sepi diujung hidupnya.
Diambil dari : NIKONIA MAGAZINE EDISI
: Oktober - Desember 2007 Teks : Nala Indira
|